Cerita pendek (cerpen) merupakan cerita yang bisa dibaca dengan sekali duduk, didalam cerita pendek terdiri dari unsur intrinsik dan ekstrinsik. Cerita pendek biasanya berupa kehidupan kehidupan nyata (nonfiksi) atau tidak nyata (fiksi).
Berikut ini cerita pendek tentang kehidupan nyata (nonfiksi) ;
Cerita Pendek (CERPEN) : Karya Zainul Arifin
NOVEMBER RAIN
Matahari bersinar seperti biasanya
terbit dari timur, namun ada yang membuat berbeda dari biasanya antara yaitu
manusia yang beraktivitas tidak seperti sedia kala, antara keadaan yang membuat
mereka melakukan hal baru. Aku mulai perlahan bangun dari tempat tidurku
melihat matahari dan menikmati segarnya pagi bulan november kali ini, di dalam
hatiku aku berdoa agar tuhan senantiasa memberikan aku kebahagian baik itu
nikmat sehat, nikmat umur, dan yang terakhir semoga tuhan memberikan aku jodoh,
hehehe. Oh iya sampai lupa namaku Roman Juliansyah Arifin biasa dipanggil
“Roman” yang hidup di tengah-tengah desa, dan aku merupakan anak pertama dari 4
bersaudara.
Aku mulai aktifitas pagi ini menjadi
aktifitas yang sedia kala dengan membersihkan tempat tidur sebelum aku
melakukan aktifitas selanjutnya dengan yakni membantu keluarga dirumah, sebagai
anak pertama aku harus membangunkan adik-adikku mulai yang dari yang kedua
hingga terakhir. Sebagai anak pertama aku merasakan berat sekali disamping aku
harus belajar atau kuliah, aku juga harus menjadi tulang punggung keluarga,
tapi semua itu terasa tidak begitu berat dengan kenikmatan yang rasa yang aku
jalani dengan tanpa adanya beban hidup sekalipun.
Aku bersyukur kepada Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga aku dapat berkuliah meskipun
aku dari keluarga yang kurang mampu, dulu aku sempat pesimis dengan keadaanku
yang saat itu, aku hanya bisa pasrah setelah lulus SMA apakah aku bisa kuliah
atau tidak kuliah, karena waktu itu aku sudah berhenti satu tahun tanpa adanya
kejelasan antara kerja, kuliah, dan menikah. Waktu terus berlalu, aku yang saat
itu hendak berjalan-jalan ke kota kemudian aku tengok kanan-kiri banyak sekali
foto-foto baliho para tokoh partai politik dengan senyum yang begitu lebar atas
tujuan mereka yang telah tercapai setelah pesta demokrasi, ditengah perjalanan
aku coba tengok kembali baliho-baliho yang ada dipinggir jalan, seketika aku
berhenti dan terdiam melihat satu baliho dengan adanya kuliah gratis dengan
iming-iming adanya beasiswa atau bidikmisi, aku pun langsung memotretnya dengan
hp samsung young 1 yang merupakan salah hp yang aku punya dan paling canggih
menurutku. Kemudian aku segera pulang kerumah dengan rasa yang bahagia hingga
lampu merah aku terobos dan alhamdulillah polisi menghentikan aku pada waktu
hendak menilang sepedaku dan kontak sepeda motorku di bawa pak polisi aku tak
habis pikir karena sepedaku bisa dipakai meski tanpa menggunakan kunci aslinya
dan akhirnya bisa kabur dari kejaran polisi tersebut.
Sesampai dirumah aku lanjut temui
ibu dan hendak bilang bahwasannya aku ingin kuliah agar aku bisa menggapai
sedikit cita-citaku untuk membahagiakan orang tua, akan tetapi yang jawaban
yang aku terima dari ibu “Sudah jangan kuliah, kuliah itu mahal dan ibu gak
punya uang, le!!!” aku menjawab “Ini kuliahnya gratis bu, malah kita yang dapat
uang dalam setiap semesternya (sambil menunjukkan foto hasil jepretan tadi)”
Ibu menjawab “Sudah gak usah maksa toh le, kan kita gak tahu selanjutnya
seperti apa, iso-iso awakmu disuruh bayar lagi” aku menjawab “Iya sudah bu
kalau begitu, kalau seumpama memang nanti bayar lagi aku tak nyari kerja sambil
kuliah” ibu menjawab “Iyo wes, sak karepmu le” aku menjawab “Maturnuwun ibu
yang tersayang (sambil senyum bahagia)”. Kemudian aku masuk ke kamar yang
didalamnya ada beberapa saudara dan saudariku, dengan penuh rasa bahagianya aku
tidak bisa tidur untuk menyambut pagi yang begitu cerah.
Malam silih berganti menjadi pagi
yang sangat laur biasa dimana aku akan setelah ini akan mencoba keberuntungan
baru dengan akan mendaftar kuliah dari bilik baliho yang terpampang di jalan,
sebelum itu aku harus pergi ke sekolah lamaku untuk meminta legalisir ijazah
agar aku bisa memenuhi persyaratan yang tertera di baliho tersebut, sesampai
disekolah aku bertemu seluruh guru-guruku dan aku mengucapkan salam
“Assalamualaikum” Jawab semuanya “Waalaikumsalam, siapa ya ?” Aku menjawab
“Roman, pak bu” mereka menjawab “Owalah roman, sini masuk le gak usah
sungkan-sungkan” aku menjawab “ngge pak” kepala sekolah bertanya “Roman, kesini
mau ngapain, kayaknya kok senang sekali raut mukanya (sambil senyum)” aku
menjawab “Itu pak, saya pengen daftar kuliah dan ikut jalur beasiswa siapa tahu
saya bisa lolos (sambil senyum)” Kepala sekolah menjawab “bagus le, lanjutkan
siapa tahu itu sudah menjadi jalanmu untuk menjadi sukses dan bahagianya kedua
orang tuamu” aku menjawab “Amin, semoga saja seperti bapak dan saya akan
berusaha semaksimal mungkin” Kepala sekolah bertanya “Sekarang kesini mau
ngapain, mau legalisir ijazah sama skhun ya! Hehehe...” aku menjawab “Lho kok
tahu pak ?” kepala sekolah menjawab “Iya lah kan bapak sudah lihat apa yang
kamu bawa, hehehe...” aku menjawab “iya seh (dalam hatiku dasar aku beliau kan
kepala sekolah pasti lebih tahu dari aku, hehehe), setelah selesai legalisir
ijazah kemudian aku berkeliling ke sekolahku sambil melihat-lihat kelas yang
sudah semakin bagus dan siapa tahu aku bisa ketemu teman-teman dan cewek-cewek
cantik, hehehe. Kemudian setelah aku berkeliling kelas dan bertemu teman-teman
dan cewek-cewek kemudian aku kembali ke kantor dan meminta izin pamit kepada
seluruh guru-guru yang ada dikantor, aku “Assalamualaikum” mereka menjawab
“Waalaikumsalam, sukses ya buat Roman” aku menjawab “Amin, terima kasih atas
doanya pak bu” mereka menjawab “Kalau sudah lulus jangan lupa kembali, siapa
tahu kita butuh tenagamu, oh iya sampai lupa le, ngomong-ngomong samean ngambil
jurusan apa ?” aku menjawab “Siap pak (dengan tegas), ngambil jurusan S1
Pendidikan Fisika, hehehe...” mereka menjawab “Semangat ya le, siapa tahu jadi
penerusnya BJ. Habibie” aku menjawab “Amin, amin, amin, ya rabbal alamin”.
Setelah pulang dari sekolah dengan
hati yang gembira aku optimis dengan semangat yang ada pada diriku bahwasannya
aku bisa dan pasti bisa, sesampai dirumah aku mulai menyiapkan segala berkas
untuk pendaftaran kuliah, eh ternyata masih ada yang kurang yaitu KTP pada
waktu aku tanya pada ibu “Bu, KTP ku dimana ya bu” ibu menjawab “Lho le, samean
kan belum punya KTP !” aku menjawab “Astaghfirullah hal adzim, ya allah aku
lupa kalau belum punya KTP, terus kalau buat KTP dimana bu ?” Ibu menjawab “di
Pendopo (Balai Desa) le, nanti ketemu
pak carek le (Sekretaris desa)”, sontak aku pun berangkat terburu-buru menuju
desa untuk bertemu pak carek (sekretaris desa), sesampai disana eh sudah mulai
sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 (jam 2 siang), akhirnya aku
pulang dengan wajah murung seakan wajah ini tidak bisa aku kondisikan lagi.
Sesampai dirumah aku disambut ibu
dengan pelukan seraya bertanya “Lho, kenapa anak seng ganteng iki, kok kayaknya
murung sekali” aku menjawab “Itu bu, tadi pas sampai dipendopo pak careknya
sudah pulang bu, karena sudah jam 2 siang” Ibu menjawab sambil tertawa “Ya
Allah le, Ibu lupa kalau pendopo itu dan para perangkatnya itu tutup dan
pulangnya jam set 2 an” Aku menjawab “Lho, iya ta bu ! terus bagaimana bu
KTPnya saya bu!” Ibu menjawab “Kan masih ada besok, sudah makan dulu, terus
sholat dan jangan lupa istirahat” Aku menjawab “Siap ibu negara, hehehe”.
Matahari terbenam di ufuk barat
menunjukkan hari sudah mulai hendak malam dan akupun terbangun dari tidurku
yang menunjukkan pukul 16:40, Sontak aku bilang “Astaghfirullah, aku belum
sholat ashar” seraya aku terburu-buru menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu’
tanpa bersih diri, setelah itu aku lihat jam tangan lagi dan waktu telah
menunjukkan pukul 17:00 seraya aku sholat ashar dan pada waktu hendak melakukan
tahiyyat akhir suara adzan maghrib berkumandang, akkhirnya akupun melanjutkan
sholat ashar hingga salam dan Aku lanjutkan dengan sholat maghrib. Selesai aku
melaksanakan aktifitas aku coba mengecek kembali untuk yang buat untuk
pendaftaran ke kampus sambil menunggu esok yang serasa sangat lama sekali bagi
diriku.

0 Komentar